First Post Since Forever
Hi,
This journey is lonely
Just like years ago
Only this time, I’m not alone
More of everything
Less of me
Fiat Voluntas Tua
Hi,
This journey is lonely
Just like years ago
Only this time, I’m not alone
More of everything
Less of me
Menikah dengan orang yang sama-sama passionate sekali dengan sekolah emang seru ya...jadi punya penyemangat untuk terus bertumbuh berkembang dan kejar sekolah setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya. Sejak pacaran kondisi kami ga jauh-jauh dari LDR karena salah satunya sedang kuliah dan/atau sedang mengejar beasiswa untuk bisa berkuliah lagi. Hingga saat ini ketika kami sudah menikah dan akhirnya bisa sekota, pak suami malah menerima beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) untuk kuliah lagi (puji Tuhan, God is so good to us). Kami seharusnya sudah mulai menjalani long distance marriage lagi per 16 Agustus 2021. Puji Tuhan, pandemi ini mengharuskan semua kegiatan perkuliahan dilaksanakan secara online sehingga aku tidak harus gegalauan ditinggal suami kuliah di masa-masa hamil. Ehm, yes, We are pregnant, my husband and I. I'm pregnant with our baby and he is pregnant with all the food he got to devour accompanying me eating.
Di sela-sela segala mual, pusing dan pegal-pegal yang melanda di awal-awal kehamilan ini, aku bersyukur bisa menjalaninya dengan didampingi suami yang penyabar, pengertian dan supportive. Terkadang ketika badan rasanya ga enak banget, aku sambil ngomong ke suami, "Bang, aku jadi ngerti perasaan teman-temanku yang menjalani masa kehamilan berjauhan dengan suaminya. Tiap hari bikin status pengeeeenn banget cepet-cepet mutasi ke kota tugasnya suami. Kalo aku di posisi mereka, aku pun sepertinya akan seperti itu". Ngomong begituan aja bisa sampai terharu banget rasanya. Sejak hamil, jiwa meloku emang semakin menjadi-jadi.
Btw, selain merasakan berbagai perubahan secara fisik selama kehamilan, akhir-akhir ini aku juga merasa bahwa hal-hal yang dulunya begitu jelas bagiku, menjadi abu-abu dan aku pun mulai mempertanyakan segala sesuatunya. Aku mulai kembali mempertanyakan pilihan karirku, cita-citaku, apakah aku akan bersekolah lagi dan apakah aku layak untuk mendapat kesempatan untuk bersekolah lagi, apa sebenarnya hal-hal yang benar-benar bermanfaat yang telah kulakukan dalam hidupku, dan lain-lain. Aku merasa tidak seperti diriku yang dulu, yang selalu driven, a go-getter, punya tujuan jelas, timeline dan ambisi. Saat ini aku masih terus berdoa dan berusaha masuk ke dalam diriku sendiri, karena berada di keadaan ini nyaman sekaligus tidak nyaman bagiku.
Sembari terus bertanya-tanya, aku memutuskan untuk berusaha melakukan yang terbaik di tempatku bekerja, berusaha mengalahkan ketidaknyamanan yang kurasakan selama hamil dan menikmati setiap hal yang kulakukan dalam mendukung pekerjaan suami. Aku menikmati masa-masa menemaninya persiapan wawancara untuk beasiswa Chevening dan AAS, aku menikmati menjadi teman diskusinya ketika merencanakan sesuatu, aku menikmati ketika turut mencuri dengar atau membaca materi perkuliahannya. I enjoy being his companion.
Talking about my husband, for me and perhaps for many, my husband is a good mentor/ advisor and the biggest initiator. Passion beliau untuk terus berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan di Nias emang ga ada habisnya. Setelah bimbelnya harus tutup karena pandemi, beliau terus berpikir bagaimana caranya agar dapat membantu para siswa dan mahasiswa Nias belajar. Akhir-akhir ini, beliau sedang giat-giatnya untuk mensosialisasikan berbagai kesempatan meraih beasiswa kepada anak-anak Nias, khususnya beasiswa LPDP kategori afirmasi. Beliau telah beberapa kali mengadakan kegiatan virtual sharing session terkait beasiswa tersebut dan mem-follow up dengan melaksanakan kelas persiapan TOEFL secara virtual. Dan disinilah peranku, dengan sebisa mungkin menjadi tentor/pengajar sekaligus memaksaku untuk kembali belajar Bahasa Inggris yang baik dan benar. Aku bersyukur karena di saat-saat seperti ini aku jadi merasa dibutuhkan, bermanfaat dan punya tujuan (jangka pendek, at least). Walaupun saat ini aku masih berperan sebagai supporter yang baik saja, sepertinya aku emang ga harus memaksakan diri untuk selalu on top of everything. It's OK to not be a hero today!
![]() |
| Sharing Session pada 14 Mei 2021 dengan narasumber Kak Liguori Ledhe, LPDP awardee , Australian National University. |
Lastly, buat teman-teman yang punya cita-cita kuliah lagi bahkan sampai ke luar negeri, mending segera cari-cari info dan persiapan deh. Kesempatan meraih beasiswa dan berbagai info terkait tips and trick meraih beasiswa bertaburan banget loh di internet, bahkan di youtube, orang tuh sampe share kehidupan sehari-hari mereka di kampus, kosan/apartment selama menempuh pendidikan menggunakan beasiswa. Kalo pengen sharing atau tanya-tanya terkait LPDP, Chevening, dan Australia Awards Scholarship, bisa reach out juga kesini, perhaps my husband can help haha...
Cheers,
Dian❤
![]() |
| unsplash.com |
My bones were not hidden from Thee when I was made in secret. curiously wrought in the lower parts of the earth. -Psalm 139:15-
Our help is in the name of The Lord, who made heaven and earth.
Fiat Voluntas Tua.
Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.
Dian 💕
Dan di atas semuanya itu, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. -Kolose 3:14-
Ayat di atas adalah ayat yang dituliskan suamiku dalam undangan pernikahan kami 4 bulan lalu. Ketika mendesain undangan pernikahan kami, dia mendiskusikan segala sesuatunya kecuali pemilihan ayat tersebut. But I won't complain a thousand times.
Hampir 4 bulan menikah, hmm..rasanya gimana ya? Belum ada waktu panjang untuk punya reflective thought yang dalem sih, tapi puji Tuhan, 4 bulan ini adalah bulan-bulan penuh syukur, penyesuaian, belajar, dan perkenalan. Penuh syukur karena jika iseng-iseng throwback ke perjuangan selama pacaran, LDR from day 1 of dating, berjuang dapat restu hingga persiapan nikah, aku masih terharu banget.
![]() |
| Bandung, January 21st, 2021 |
Anyway, penyesuaian mungkin hal yang paling umum dialami sama semua newly weds; yang dulu cuman mikirin diri sendiri, sekarang ritme hidup dan segala keputusan harus mempertimbangkan kebutuhan dan kenyamanan pasangan. Nah, 4 bulan ini kira-kira seperti apa sih?
1. Belajar Bareng
Nah, belajar ini nih yang seru banget buatku. Di awal pernikahan ini, belajar untuk kami adalah baik belajar tentang kehidupan #tsaahh... maupun literally belajar-try out-persiapan ujian. Sepertinya, hal paling awal yang mempersatukan kami dulunya adalah kesukaan kami untuk terus bersekolah. Klise sekali kan kedengarannya kan? haha...kesannya cupu dan kutu buku banget. Tapi enggak gituuuu...kalo aku pribadi, aku suka proses belajarnya tapi "benci" ujian, karna biasanya nilai ujianku pasti biasa-biasa aja, padahal belajarnya udah maksimal banget huhuhu... Kalo kenapa suamiku pengen sekolah terus, jawabannya pasti sangat filosofis dan visioner sodaraaaa...jadi kalo mau tau alasan dia ingin bersekolah lagi, ntar kita baca scholarship application essay-nya aja yaa 🙆.
Sedikit curcol, dulu beliau PDKT ke aku ketika aku sedang persiapan ujian tugas belajar D4 di PKN STAN. Beliau jago matematika, jadi tiap hari dia selalu ngirimin 10 soal matematika via WA dan sekali 2 minggu buatin try out matematika untukku. Hingga akhirnya kami harus LDR karena aku harus kuliah ke Bintaro, dia masih terus menjadi teman belajar selama kuliah dan skripsian. Kami bahkan menjadi co-author dari jurnal publikasi pertama kami, puji Tuhan! Sekarang setelah nikah dan aku udah selesai kuliah, beliau yang pengen lanjut kuliah lagi dan jadi pemburu beasiswa. Hampir tiap malam kami belajar dan try out IELTS, nulis application essay dan ngawanin beliau ujian wawancara. I don't know why, dari setiap pengalaman bersama di awal pernikahan ini, momen-momen bermimpi dan berusaha untuk sekolah lagi adalah hal yang paling kunikmati. Puji Tuhan, dipertemukan dan dipersatukan dengan seseorang yang sama-sama pemimpi dan punya mimpi yang kurang lebih sama.
2. Kenalan
Perkenalan ini juga seru dan kadang bikin emosi naik turun. Selain berkenalan dengan suami dan keluarga besarnya, 4 bulan ini merupakan momen self-discovery buatku. Aku makin sadar kalo aku punya mood swing yang agak parah. Kalo dulu hidup sendiri, bete ya ga tersalurkan, ga ada yang nyadar juga. Berhubung sekarang udah hidup bersama dengan orang lain, ada momen-momen yang aku sedang capek, sensi atau lagi males ngobrol. Ternyata aku cukup sering tidak rasional haha...Having someone to live with for almost 24/7 is like having a CCTV, witnessing all your rain and rainbows. But, my CCTV is no regular CCTV, it's an upgraded version. It hugs, consoles and bears with me 😋.
3. Balancing Everything
Sebelum nikah, aku tidak terikat dengan adat istiadat dan tradisi, ga punya kewajiban untuk ikut kondangan, perkumpulan, dll. Namun sejak nikah, aku "terpaksa" harus membiasakan diri dengan segala agenda-agenda tradisi dan sosial, terlebih karena aku sekarang berdomisili di kampung halaman, maka agendanya banyaaaakkk banget. Saat ini, aku kadang agak kelelahan dan pusing ngatur jadwal agar tetap bisa menghadiri berbagai acara nikahan, acara keluarga, dll tanpa mengorbankan waktu bekerja, ga izin-izin mulu dari kantor, tetap bisa perform dan berkarir. Boro-boro mikirin me time yang banyak kayak waktu masih lajang. Tapi aku bersyukur sih, setidaknya di minggu malam, aku bisa punya waktu buat diri sendiri untuk baca-baca, nulis diary, dll. Pak suami pun sepertinya udah tau polanya dan dia emang selalu bilang kalo kami berdua memang butuh space juga, so he makes sure that I'll let him know when I need some space, some time alone.
![]() |
| Weekend and libur? it's kebaya and kondangan time dong guys💃 |
4. Bingung dan Membego Bersama
Other than all the things above, kita masih banyak bingung dan begonya haha...Banyak rencana dan kerinduan, tapi yah dijalanin aja dlu. We're taking one thing at a time, we don't have figure out everything all at once. Puji Tuhan, sekarang bisa berdoa bareng. Setiap kali kita pengen A, kita bisa doain bareng biar Tuhan yang mempertajam apakah emang sebaiknya kami melakukan A sekarang, nanti dulu atau ga usah dulu deh. Selain itu, kita juga masih bersama orang tua, masih ada yang bisa nuntun dan nangkep kalo-kalo kita salah langkah trus oleng haha..
Oh ya, unlike other typical young wives yang begitu nikah mendadak hobi masak-masak gitu, aku malah belum pernah masak sendiri sejauh ini, masih sebatas bantu-bantuin mama mertua dan kakak aja di dapur. Setiap keluarga itu punya cara masak dan selera sendiri, maka sejago-jagonya kita masak di rumah sendiri, pasti akan jadi kayak orang ga bisa masak di rumah orang lain. Nah, aku saat ini sedang di fase itu, di dapur mama mertuaku, I'm still a rookie, a newbie haha...Berhubung aku lebih banyak di kantor dan dampingin suami ngerjain kegiatan ekstrakurikulernya, I don't invest much time in the kitchen and I don't think that I will upgrade to a higher class anytime soon. But I won't sweat it, I believe that not being a masterchef doesn't make me less of a woman, less of a good wife. Semoga tetap bisa jadi penolong yang baik ☺
Well, senang deh akhirnya bisa random post lagi, berasa accomplished dan produktif banget haha...Sudah rinduuuu sekali bisa ngetik-ngetik lagi, mudah-mudahan bisa berkomitmen untuk rajin lagi haha....
More stories to come y'all,
Dian💑💓
![]() |
| This photo was taken in 2015 while Bapak was visiting me in Jakarta. Bapak's visits meant good food, new clothes and make up from Mama👪 |
Hampir 6 bulan ngekos di Senen dan aku belum merasa pewe juga. Apa ya yang kusuka disini? Lingkungannya padat penduduk, kos-kosan mahal, kamar/rumah yang sempit dan biaya hidup tinggi. Saking sedihnya harus pindah dari Bintaro kesini, pertama kali aku menginjakkan kaki di kamar kosan baru, aku nangis. Nangisnya ga bentar sis, putus-nyambung kayak hubunganmu dengannya😜.
Satu-satunya yang menjadi alasanku untuk stay disini ya karena jaraknya yang cuman 20 menit jalan kaki ke kantor, tanpa harus ngojek atau ngangkot. Di masa pandemi ini, nglaju dari Bintaro tercinta, naik krl dan ojol, bukan pilihan yang tepat buatku.
Ngomong-ngomong tentang pilihan, baru-baru ini aku menyadari betapa "mewah"nya hidupku. Alkisah, aku ada keperluan yang mengharuskan aku untuk pulang kampung dan mengunjungi beberapa kota. Seperti yang kita ketahui bersama, pemerintah mengharuskan penumpang pesawat untuk melakukan rapid test/PCR sebelum terbang. Maka, jadilah aku yang hampir ga pernah ngeliat matahari ini, harus keluar kosan menuju klinik untuk rapid test.
Btw, sejauh ini, aku cukup berusaha untuk disiplin mengikuti protokol kesehatan selama pandemi COVID-19. Aku ga pernah naik transportasi umum kecual pesawat karna emang ga punya pilihan lain. Selain itu, aku kemana-mana selalu jalan kaki atau mesen g*car dan gr*bcar. Walaupun harus mengeluarkan duit lebih banyak untuk naik blablabla-car, tapi lagi-lagi, saat ini ojek bukan pilihan yang tepat buatku.
Dari dalam mobil menuju klinik, aku dibukakan matanya akan betapa mewahnya sebuah pilihan. Ketika aku bisa memilih untuk naik transportasi yang nyaman dan cenderung aman, ada orang-orang yang terpaksa harus naik kendaraan umum demi bisa makan dan syukur-syukur nabung. Ketika aku bisa memilih untuk tetap stay di kosan yang belum bisa membuatku pewe iniiiii, ada orang yang tidak memiliki pilihan sama sekali selain harus menantang risiko di luar rumah untuk bekerja. Di kala aku mulai kewalahan dengan kerjaan yang semakin bertambah, ada orang-orang yang kebingungan mau kerja dimana sekarang.
Wow, mewah sekali hidupku!
Trus aku mau cerita lagi.
Beberapa hari yang lalu, tunanganku nelfon (Oh ya, I'm engaged now. We'll get to that later 😊). Dia cerita tentang kegiatannya berkunjung dan ngawasin pelaksanaan Sensus Penduduk 2020 di Nias (Yes! We're Jakarta-Nias apart 🤷). Jadi katanya, ada petugas sensus yang harus jalan kaki sejauh 8 km ke dalam hutan untuk mendata keluarga-keluarga yang tinggal di kebun. Keluarga-keluarga itu hidup di gubuk, tanpa listrik, tanpa sinyal internet dan makan seadanya dari kebun mereka. Trus percakapan selanjutnya kira-kira seperti ini:
👩: "Ih kok sedih kali dengarnyaaaa..."
👨: " Loh, emang kau ga pernah melihat atau mendengar kesusahan hidup yang seperti itu?"
👩: "Pernahlaah..di Jakarta malah lebih parah sebenarnya. Cuman ya sedih aja kalo diceritain lagi"
Diceritain lagi, makanya sedih. Kalo ga diceritain, ya lupa.
Lupa kalo hidupku ini mewah banget.
Kamu juga sering lupa kan?Hehehe...
Udah ahh...udah jam 8 malam. Aku mau buka Excel lagi, lanjutin kerjaan, sampe ngantuk, trus tidur dan besok bangun pagi sambil ngeluh-ngeluh betapa kerjaan kok ga ada habis-habisnya.
Cheers,
![]() |
| Photo by Christine Tutunjian on Unsplash |
![]() |
| Dresscode zoomdisium👖 |
![]() |
| Buah manggis sekarang sudah ada ekSTRAKnya 😝 |
![]() |
| Dari saudara PA-kuuuu ♡ |
![]() |
| Photo by Timur M on Unsplash |
Kemudian Tobia bangkit dari tempat tidur dan berkata kepada Sara: "Bangunlah adinda, mari kita berdoa dan mohon kepada Tuhan kita, semoga dianugerahkan-Nya belas kasihan serta perlindungan. Maka bangunlah Sara dan mereka berdua mulai berdoa dan mohon, supaya mereka mendapat perlindungan.Mengapa aku suka sekali ayat itu? Karena aku yakin saat itu mereka sedang jatuh cinta berat sama satu lain, tapi itu ga membuyarkan mata dan hati mereka kepada Tuhan. Mereka tetap mengarahkan pandangan mereka ke arah yang sama yaitu ke Tuhan. Wow!
![]() |
| Kelas 7-02 D4 Akuntansi STAN |
![]() |
| Kelas 7-01 dan 7-02. D4 akuntansi untuk angkatanku cuman ada 2 kelas ini. |
![]() |
| Salah satu lapangan untuk berkuda di JEP |
![]() |
| Rada norak sih di LRT aja pake foto2 tapi yaudalah yaaa..😉 |
![]() |
| THISSS!!! |