Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Thursday, September 23, 2021

Life Update, Suami, Sekolah dan Beasiswa!

September 23, 2021 1 Comments

Menikah dengan orang yang sama-sama passionate sekali dengan sekolah emang seru ya...jadi punya penyemangat untuk terus bertumbuh berkembang dan kejar sekolah setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya. Sejak pacaran kondisi kami ga jauh-jauh dari LDR karena salah satunya sedang kuliah dan/atau sedang mengejar beasiswa untuk bisa berkuliah lagi. Hingga saat ini ketika kami sudah menikah dan akhirnya bisa sekota, pak suami malah menerima beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) untuk kuliah lagi (puji Tuhan, God is so good to us). Kami seharusnya sudah mulai menjalani long distance marriage lagi per 16 Agustus 2021. Puji Tuhan, pandemi ini mengharuskan semua kegiatan perkuliahan dilaksanakan secara online sehingga aku tidak harus gegalauan ditinggal suami kuliah di masa-masa hamil. Ehm, yes, We are pregnant, my husband and I. I'm pregnant with our baby and he is pregnant with all the food he got to devour accompanying me eating.


Di sela-sela segala mual, pusing dan pegal-pegal yang melanda di awal-awal kehamilan ini, aku bersyukur bisa menjalaninya dengan didampingi suami yang penyabar, pengertian dan supportive. Terkadang ketika badan rasanya ga enak banget, aku sambil ngomong ke suami, "Bang, aku jadi ngerti perasaan teman-temanku yang menjalani masa kehamilan berjauhan dengan suaminya. Tiap hari bikin status pengeeeenn banget cepet-cepet mutasi ke kota tugasnya suami. Kalo aku di posisi mereka, aku pun sepertinya akan seperti itu". Ngomong begituan aja bisa sampai terharu banget rasanya. Sejak hamil, jiwa meloku emang semakin menjadi-jadi.


Btw, selain merasakan berbagai perubahan secara fisik selama kehamilan, akhir-akhir ini aku juga merasa bahwa hal-hal yang dulunya begitu jelas bagiku, menjadi abu-abu dan aku pun mulai mempertanyakan segala sesuatunya. Aku mulai kembali mempertanyakan pilihan karirku, cita-citaku, apakah aku akan bersekolah lagi dan apakah aku layak untuk mendapat kesempatan untuk bersekolah lagi, apa sebenarnya hal-hal yang benar-benar bermanfaat yang telah kulakukan dalam hidupku, dan lain-lain. Aku merasa tidak seperti diriku yang dulu, yang selalu driven,  a go-getter, punya tujuan jelas, timeline dan ambisi. Saat ini aku masih terus berdoa dan berusaha masuk ke dalam diriku sendiri, karena berada di keadaan ini nyaman sekaligus tidak nyaman bagiku.


Sembari terus bertanya-tanya, aku memutuskan untuk berusaha melakukan yang terbaik di tempatku bekerja, berusaha mengalahkan ketidaknyamanan yang kurasakan selama hamil dan menikmati setiap hal yang kulakukan dalam mendukung pekerjaan suami. Aku menikmati masa-masa menemaninya persiapan wawancara untuk beasiswa Chevening dan AAS, aku menikmati menjadi teman diskusinya ketika merencanakan sesuatu, aku menikmati ketika turut mencuri dengar atau membaca materi perkuliahannya. I enjoy being his companion.


Talking about my husband, for me and perhaps for many, my husband is a good mentor/ advisor and the biggest initiator. Passion beliau untuk terus berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan di Nias emang ga ada habisnya. Setelah bimbelnya harus tutup karena pandemi, beliau terus berpikir bagaimana caranya agar dapat membantu para siswa dan mahasiswa Nias belajar. Akhir-akhir ini, beliau sedang giat-giatnya untuk mensosialisasikan berbagai kesempatan meraih beasiswa kepada anak-anak Nias, khususnya beasiswa LPDP kategori afirmasi. Beliau telah beberapa kali mengadakan kegiatan virtual sharing session terkait beasiswa tersebut dan mem-follow up dengan melaksanakan kelas persiapan TOEFL secara virtual. Dan disinilah peranku, dengan sebisa mungkin menjadi tentor/pengajar sekaligus memaksaku untuk kembali belajar Bahasa Inggris yang baik dan benar. Aku bersyukur karena di saat-saat seperti ini aku jadi merasa dibutuhkan, bermanfaat dan punya tujuan (jangka pendek, at least). Walaupun saat ini aku masih berperan sebagai supporter yang baik saja, sepertinya aku emang ga harus memaksakan diri untuk selalu on top of everything. It's OK to not be a hero today! 

Sharing Session pada 14 Mei 2021 dengan narasumber Kak Liguori Ledhe, LPDP awardee ,
Australian National University.

Sharing Session pada 14 Mei 2021 dengan narasumber Bang Ridho Juliandra, LPDP awardee ,
University of Nottingham, UK. Beliau juga salah satu advisor Pak Suami ketika menyusun essay untuk
apply beasiswa Chevening dan AAS.

Sharing session pada 17 September 2021 dengan beberapa adik-adik lulusan IKIP Gunungsitoli yang bercita-cita untuk kuliah lagi. Narasumber Intan Gea, awardee LPDP 2021. Btw, she's so humble and the way she spoke about her journey to scholarship was so uplifting menurutku. Adik-adik dari Nias perlu banyak mendengar cerita-cerita penyemangat and relatable seperti ceritanya Intan☺

Lastly, buat teman-teman yang punya cita-cita kuliah lagi bahkan sampai ke luar negeri, mending segera cari-cari info dan persiapan deh. Kesempatan meraih beasiswa dan berbagai info terkait tips and trick meraih beasiswa bertaburan banget loh di internet, bahkan di youtube, orang tuh sampe share kehidupan sehari-hari mereka di kampus, kosan/apartment selama menempuh pendidikan menggunakan beasiswa. Kalo pengen sharing atau tanya-tanya terkait LPDP, Chevening, dan Australia Awards Scholarship, bisa reach out juga kesini, perhaps my husband can help haha...


Cheers,
Dian❤


Saturday, May 22, 2021

You Preggo?

May 22, 2021 0 Comments
Hi, para newly married ladies yang berbahagia dan timbangannya makin hari makin ke kanan. 
I know you feel me, cause I feel you too😀

I feel the happiness you feel in your heart, you forget to count the calories you eat. The comfort of the food shows through your face. It plumps your cheeks.

I know what your clothes and your husband have in common. They hug you so tight, it gets tighter every day. They envelop all your curves, radiating warmth. You won't catch a cold.

I've been posting some photos of mine (or ours) on social media post married and I am super aware that I've been putting on some weight. But I didn't really realize that I'm that type of woman who's bigger in the midsection until some of my friends asked if I'm pregnant or not😂. 

"No, guys. I wish but I'm not pregnant just yet, not that I know of. That big belly of mine is just a bundle of happiness, fat, gas and feces", that's how I replied to them.

For now, we have no reason to panic and rush into getting children. I haven't made any plan on booking an appointment with an ob-gyn, yet. The longing is there but we don't see the point of sweating it too much, except pray for it day and night. 
unsplash.com
Unlike in the old times, couples nowadays are struggling to have children of their own. Some of my friends waited or are waiting for years to be pregnant. Let alone, some people choose to live a childfree marriage. I can understand why my family and dearest friends already start asking me such questions. I can see that they all come from pure hearts, best intentions.

My bones were not hidden from Thee when I was made in secret. curiously wrought in the lower parts of the earth. -Psalm 139:15-

Hi, my future kid(s), I know that Father Jesus already knows everything about you loooonggg before your Dad and I would know you would've existed. He has the best plan and beautiful design for you, me, and your Dad. And even if you would never be destined to be with us, "Everything's gonna be alright, Dek", that's how your Dad would say to me. He gets our back💪

Just like what has been written in Psalm 124:8,

Our help is in the name of The Lord, who made heaven and earth.


Fiat Voluntas Tua. 

Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.


Dian 💕 



Friday, May 21, 2021

The Perks of Being A Newly-Wed Working Wife

May 21, 2021 0 Comments

Dan di atas semuanya itu, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. -Kolose 3:14-

Ayat di atas adalah ayat yang dituliskan suamiku dalam undangan pernikahan kami 4 bulan lalu. Ketika mendesain undangan pernikahan kami, dia mendiskusikan segala sesuatunya kecuali pemilihan ayat tersebut. But I won't complain a thousand times.


Hampir 4 bulan menikah, hmm..rasanya gimana ya? Belum ada waktu panjang untuk punya reflective thought yang dalem sih, tapi puji Tuhan, 4 bulan ini adalah bulan-bulan penuh syukur, penyesuaian, belajar, dan perkenalan. Penuh syukur karena jika iseng-iseng throwback ke perjuangan selama pacaran, LDR from day 1 of dating, berjuang dapat restu hingga persiapan nikah, aku masih terharu banget.

Bandung, January 21st, 2021

Anyway, penyesuaian mungkin hal yang paling umum dialami sama semua newly weds; yang dulu cuman mikirin diri sendiri, sekarang ritme hidup dan segala keputusan harus mempertimbangkan kebutuhan dan kenyamanan pasangan. Nah, 4 bulan ini kira-kira seperti apa sih? 


1. Belajar Bareng

Nah, belajar ini nih yang seru banget buatku. Di awal pernikahan ini, belajar untuk kami adalah baik belajar tentang kehidupan #tsaahh... maupun literally belajar-try out-persiapan ujian. Sepertinya, hal paling awal yang mempersatukan kami dulunya adalah kesukaan kami untuk terus bersekolah. Klise sekali kan kedengarannya kan? haha...kesannya cupu dan kutu buku banget. Tapi enggak gituuuu...kalo aku pribadi, aku suka proses belajarnya tapi "benci" ujian, karna biasanya nilai ujianku pasti biasa-biasa aja, padahal belajarnya udah maksimal banget huhuhu... Kalo kenapa suamiku pengen sekolah terus, jawabannya pasti sangat filosofis dan visioner sodaraaaa...jadi kalo mau tau alasan dia ingin bersekolah lagi, ntar kita baca scholarship application essay-nya aja yaa 🙆. 


Sedikit curcol, dulu beliau PDKT ke aku ketika aku sedang persiapan ujian tugas belajar D4 di PKN STAN. Beliau jago matematika, jadi tiap hari dia selalu ngirimin 10 soal matematika via WA dan sekali 2 minggu buatin try out matematika untukku. Hingga akhirnya kami harus LDR karena aku harus kuliah ke Bintaro, dia masih terus menjadi teman belajar selama kuliah dan skripsian. Kami bahkan menjadi co-author dari jurnal publikasi pertama kami, puji Tuhan! Sekarang setelah nikah dan aku udah selesai kuliah, beliau yang pengen lanjut kuliah lagi dan jadi pemburu beasiswa. Hampir tiap malam kami belajar dan try out IELTS, nulis application essay dan ngawanin beliau ujian wawancara. I don't know why, dari setiap pengalaman bersama di awal pernikahan ini, momen-momen bermimpi dan berusaha untuk sekolah lagi adalah hal yang paling kunikmati. Puji Tuhan, dipertemukan dan dipersatukan dengan seseorang yang sama-sama pemimpi dan punya mimpi yang kurang lebih sama.


2. Kenalan

Perkenalan ini juga seru dan kadang bikin emosi naik turun. Selain berkenalan dengan suami dan keluarga besarnya, 4 bulan ini merupakan momen self-discovery buatku. Aku makin sadar kalo aku punya mood swing yang agak parah. Kalo dulu hidup sendiri, bete ya ga tersalurkan, ga ada yang nyadar juga. Berhubung sekarang udah hidup bersama dengan orang lain, ada momen-momen yang aku sedang capek, sensi atau lagi males ngobrol. Ternyata aku cukup sering tidak rasional haha...Having someone to live with for almost 24/7 is like having a CCTV, witnessing all your rain and rainbows. But, my CCTV is no regular CCTV, it's an upgraded version. It hugs, consoles and bears with me 😋. 


3. Balancing Everything

Sebelum nikah, aku tidak terikat dengan adat istiadat dan tradisi, ga punya kewajiban untuk ikut kondangan, perkumpulan, dll. Namun sejak nikah, aku "terpaksa" harus membiasakan diri dengan segala agenda-agenda tradisi dan sosial, terlebih karena aku sekarang berdomisili di kampung halaman, maka agendanya banyaaaakkk banget. Saat ini, aku kadang agak kelelahan dan pusing ngatur jadwal agar tetap bisa menghadiri berbagai acara nikahan, acara keluarga, dll tanpa mengorbankan waktu bekerja, ga izin-izin mulu dari kantor, tetap bisa perform dan berkarir. Boro-boro mikirin me time yang banyak kayak waktu masih lajang. Tapi aku bersyukur sih, setidaknya di minggu malam, aku bisa punya waktu buat diri sendiri untuk baca-baca, nulis diary, dll. Pak suami pun sepertinya udah tau polanya dan dia emang selalu bilang kalo kami berdua memang butuh space juga, so he makes sure that I'll let him know when I need some space, some time alone.

Weekend and libur? it's kebaya and kondangan time dong guys💃


4. 
Bingung dan Membego Bersama

Other than all the things above, kita masih banyak bingung dan begonya haha...Banyak rencana dan kerinduan, tapi yah dijalanin aja dlu. We're taking one thing at a time, we don't have figure out everything all at once. Puji Tuhan, sekarang bisa berdoa bareng. Setiap kali kita pengen A, kita bisa doain bareng biar Tuhan yang mempertajam apakah emang sebaiknya kami melakukan A sekarang, nanti dulu atau ga usah dulu deh. Selain itu, kita juga masih bersama orang tua, masih ada yang bisa nuntun dan nangkep kalo-kalo kita salah langkah trus oleng haha..


Oh ya, unlike other typical young wives yang begitu nikah mendadak hobi masak-masak gitu, aku malah belum pernah masak sendiri sejauh ini, masih sebatas bantu-bantuin mama mertua dan kakak aja di dapur. Setiap keluarga itu punya cara masak dan selera sendiri, maka sejago-jagonya kita masak di rumah sendiri, pasti akan jadi kayak orang ga bisa masak di rumah orang lain. Nah, aku saat ini sedang di fase itu, di dapur mama mertuaku, I'm still a rookie, a newbie haha...Berhubung aku lebih banyak di kantor dan dampingin suami ngerjain kegiatan ekstrakurikulernya, I don't invest much time in the kitchen and I don't think that I will upgrade to a higher class anytime soon. But I won't sweat it, I believe that not being a masterchef  doesn't make me less of a woman, less of a good wife. Semoga tetap bisa jadi penolong yang baik ☺


Well, senang deh akhirnya bisa random post lagi, berasa accomplished dan produktif banget haha...Sudah rinduuuu sekali bisa ngetik-ngetik lagi, mudah-mudahan bisa berkomitmen untuk rajin lagi haha....


More stories to come y'all,

Dian💑💓

Sunday, October 4, 2020

Don't Talk To Me Like That!

October 04, 2020 0 Comments
"There are people around us who has the most damaging mouths and we know that by the time we get around them, we're gonna be damaged, we're gonna be slammed. They don't even hide it, they wear it like a badge. It's almost like an entitlement that they hurt other people." - Jimmy Evans on Marriage Today.

I was in a "throwback" mood when I was going through my old journal and stumbled upon a note of Jimmy Evans' sermon that I wrote on Wednesday, May 6th 2020. Apparently, I was having an anger issue and trying to self-assess what caused this whistling-ready-to-explode-teapot-I had in my chest. I usually found my journal as a sanctuary for me. Whenever I felt like bottling an emotion, journaling helped sorting things out and calmed me down. I built this system in order to avoid venting my rage. Sometimes, on my lucky days, I could choose to control myself. But, when I couldn't, I am the dumbest and the sharpest-tongued person. Just like what Jimmy Evans said about the damaging mouths, my words hurt. 

Right before listening to Jimmy Evans' sermon, I was having all these questions in my head, "How people can be so feisty and mean with their mouths? What's in their heads? Who hurt them? Why can I be so hurt only by words? Why do they keep resounding in my head?". I was asking with my finger pointing out without realizing that I have the same exact tendency with my mouth when I rage.

Well, I wrote the whole sermon but here are my takeaways.
  • Parents are the most profound influence in children. We have a tendency to do what our parents did even when we don't like it.
  • Our past shapes our present. If we have a bad way of talking, where do we get it? From our own home, school, inner circle? Have we seen on movies, read it somewhere? etc.
  • Hurt people hurt people. Those with the sharpest tongues, meanest mouths, coldest hearts could be the people with wounded hearts. They harm others to hide how fragile and vulnerable they really are. It's like a self-defense system, kill before you get killed!
It seems like Jimmy was suggesting to blame our parents, family, loved ones for all the bad emotions we've been bottling up. But no!

What he was saying was we can be the ends of all the damage and disfunctions in our family, community, and etc. Forgiveness is the key. We don't wanna carry trash and give it to others, especially to our children, if we're planning to have one(s). We forgive the people and the event. We can always choose to dispose all the toxins and move on with our life. It is healthier for us to stop the anger reside within us and hurt other people through us.

Finished reading the story of the day, I turned the pages and read the next stories. Well, listening to Jimmy and writing the sermon didn't simply settle things down and make me a more composed, forbearing person. There were still some ugly days down the road. But at least, I now have a better understanding of why people do what they do, including why I act and react the way I do.

As I said before, journaling is a system I built to elaborate and analyze my feeling. Do I have a right to feel, think and react in a certain way. I always try my best to not vent, but when I do, I always and always thank my father for his wide-as-the-ocean heart. I love him for his forbearance and aspire to have the littlest size of his big heart.
This photo was taken in 2015 while Bapak was visiting me in Jakarta.
Bapak's visits meant good food, new clothes and make up from Mama👪


With love,
Dian💛

Monday, November 19, 2018

A Gratitude Journal

November 19, 2018 0 Comments
Always go with the choice that scares you the most, because that's the one that is going to help you grow - Caroline Myss
 And here I am now, scared  yet psyched by my own choice.

Setelah hampir 3 tahun bertugas di kampung halaman, Pulau Nias, finally 3 September 2018 aku pindah kembali ke Pulau Jawa. "Finally" bukan karena aku tidak menikmati pekerjaanku selama ini, sebaliknya, aku justru di zona ternyaman selama 3 tahun terakhir sampai aku takut aku bakalan tenggelam dalam kenyamanan itu. Setelah penantian panjang, persiapan dan perjuangan bolak-balik sana sini, akhirnya aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di D4 Akuntansi STAN tahun 2018 ini.


Aduuuhh..sudah 3 bulan disini dan entah kenapa sampai sekarang tiap ingat bahwa aku bisa jadi mahasiswa di kampus ini lagi, aku otomatis ber-"terimakasih Bapa" dalam hati.

Alasan kenapa aku sampe segitu bersyukurnya bisa kuliah disini tuh ya karena sejak wisuda D3 dulu, aku memang bercita-cita untuk kembali lagi. Namun berhubung kuliah kembali disini berarti (1) bersaing dengan sesama STAN yang udah ketahuanlah ya gimana otak dan cara belajarnya, (2) yang diambil semakin sedikit, tahun-tahun sebelumnya ada 4 kelas untuk spesialisasi akuntansi dan 2 tahun terakhir hanya ada 2 kelas, (3) aku manusia sangat tau diri bahwa aku dulu mediocre dengan IPK mediocre sementara senior di atasku yang keterima di D4 STAN adalah rata-rata IPK dewa, (4) sudah kelamaan kerja dan ga nyentuh buku kuliah, ga tau mau belajar mulai dari mana.

Btw, aku dengan harapan yang luar biasa untuk bisa lanjut kuliah lagi ini sempat bikin aku gelisah berlebihan (thus my recent "galau" posts 😝). Selama hampir setahun, aku ga punya hal lain yang bener-bener sematerial "pengen D4". Soalnya tahun ini, pengumuman penerimaan calon mahasiswa tugas belajar sedikit agak lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kemudian, aku juga terlambat setahun untuk mencoba ujian D4 karena peraturan tertentu yang ga membolehkan aku nyoba. Perasaan "terlambat selangkah dibanding teman-teman yang lain" dan harapan setinggi langit itulah yang bikin anxiety-ku juga setinggi langit. Tapi puji Tuhan, sekitar bulan Mei (kalau ga salah), pengumuman penerimaan calon mahasiswa tubel keluar juga. 

Ngomong-ngomong tentang masa-masa anxious berlebihan, life plan ku bener-bener ga jauh-jauh dari D4, bahkan sampai apakah aku perlu membeli suatu barang, apakah aku harus ikut ajakan teman untuk travelling ke suatu tempat, apakah aku harus melakukan ABCD termasuk tentang keputusan terpenting sekalipun, itu selalu diputuskan berdasarkan "ini bakalan mengganggu plan buat kuliah lagi ga? ntar klo aku beli ini, duitku masih cukup ga buat persiapan bolak-balik ke Medan untuk ujian D4?". I was that obsessed and determined sampai akhirnya justru dekat-dekat ujian, aku merasa aku harus lebih nyantai kalau pengen berhasil. Soalnya gelisah terus-menerus justru bikin aku ga bisa fokus dan takutnya ntar ga bisa nerima kenyataan #tsaah... kalo ternyata hasilnya ga sesuai harapan

Dan akhirnya, disinilah aku, kembali berkutat dengan PR yang kok kayaknya ga habis-habisnya, trying to keep up dengan teman-teman sekelas yang pinter-pinter (bangga aku tuuuhh sekelas sama mereka), sembari menikmati hari-hari libur yang diakibatkan kelas cancel. Can't thank God enough for this opportunity, tiap ingat gimana aku ditemenin selama penantian,persiapan dan ujian-ujian, aku langsung malu sama diri-sendiri yang dulu kok kayaknya gelisah parah.

Aku juga ga akan bisa melupakan teman-teman terdekatku yang jadi tempatku berkeluh-kesah tentang persiapan D4, berbagi materi persiapan ujian, berbagi info try out online dan yang cuman "one-chat away" mendengarkan ceritaku tentang berbagai hal termasuk hal pribadi. Adik-adikku yang selalu jadi supporter terbesarku, khususnya Paul, yang selama 3 tahun terakhir, bukan cuman sebagai adik, tapi udah kayak sa.ha.bat. Ga ada hal yang terjadi di hidupku dan hal yang terlintas di pikiranku selama 3 tahun ini yang dia gatau. Dan asiknya, dia bisa banget diajak diskusi dan dia tipikal orang berpendirian namun terbuka dengan berbagai persepsi dan masukan. Jadi aku bisa ngmong apa aja, hal paling aneh dan ekstrim sekalipun, tanpa merasa di-judge atau aku yang berpikir "duh...dia ga akan ngerti nih".
You know what's funny? I forgot that my brothers are no longer kids that it's now their turn "brother-ing" me, instead of me "sister-ing" them. 
"Brother-ing" and "sister-ing", I'm not even sure if those are words but you know what I mean. Sekarang kita udah bisa saling menasehati, mendukung dan mendorong. Ga cuman aku sebagai kakak yang selalu ngasitau mana yang benar dan salah ke adik-adiknya. Thank God🙏

Aku juga bersyukur punya mama dan bapak yang walaupun sebenarnya berat hati membiarkan anaknya nyoba kuliah lagi (karna kalo lulus, aku merantau lagi), namun seperti mereka selama ini, mereka selalu mendukung anak-anaknya. Makanya sampai sekarang, aku tiap melakukan sesuatu, kalo mau bandel pun, sebisa mungkin jangan yang efeknya bakalan bikin mereka kecewa. Kasian soalnya, udah luar biasa supportive ke anak-anaknya, eh malah dihancurin kepercayaan dan harapannya (pikiran ini juga sih yang kadang bikin aku kesel ke mereka kalo kadang mereka ga percayaan ke aku. I was like "why won't you trust meeee?)

Trus, satu lagi. Ada berapa kali dalam hidup, kita merasa bahwa sesuatu yang awalnya kita pikir adalah halangan malah menjadi jalan? Aku lupa berapa kali aku ber-negative thinking ke sesuatu hal atau seseorang yang menurutku bakalan menghalangi aku menuju ke tujuan awalku. Tapi kali ini, aku memutuskan untuk tidak lupa.

Di tengah-tengah persiapanku untuk D4 ini, di kala aku merasa semua hal ga material harus disisihkan dulu untuk bisa kuliah lagi, ada orang yang awalnya aku rasa bakalan "menggangu" malah sebaliknya jadi penolong. Biggest helper and supporter, malah. Mungkin ini tuh salah satu cara Tuhan menjawab doa-doaku selama ini yang helpless ga tau gimana cara buat belajar yang efektif dan efisien untuk memperbesar kesempatanku untuk lulus. And now, we're bestfriends and after helping me with the test, he's been helping me with the lectures. Yup, ini tuh lebih ke dia yang bantuin aku, sementara aku useless. Aku ga tau manfaatku apa ke dia wkwkkw...😜. Terimakasih seribuuu... Mungkin pesan moral dari ini semua untukku adalah (1) jangan negative thinking, (2) God can work through peculiar ways, in  unseemly time, through unexpected people. All you need to do is ask and relax.

Btw, ini tuh udah bulan November 2018, playlist-ku setiap saat sudah lagu-lagu natal. Can't wait for christmas and home. Aku udah beli tiket pulang ke Nias 2 bulan sebelum tanggal keberangkatan. Ini juga sekalian mengigatkanku bahwa tahun 2018 akan berakhir dan tahun 2019 udah mulai ngintip. Sudah mulai memikirkan resolusi dan harapan yang harus dicapai di tahun 2019. Berhubung aku ga pernah bikin resolusi karena ga yakin bisa komitmen, aku biasanya menetapkan harapan (lebih ke goal sih sebenarnya). Puji Tuhan, harapan untuk tahun 2018 tercapai, aku bisa kuliah lagi. 

Nah sekarang kepikiran tahun 2019 nih. Since I think, I've been in a very good term right now and there's one more goal that I haven't achieved yet (masih banyak sih harusnya, tp ini kayaknya yang timingnya paling pas), I've been thinking of this "wish". Tapi ini kayaknya rada susah. Tapi balik lagi kayak quote di atas "scary things help you grow and God can work in peculiar ways", so let's see what 2019 would bring me.

With a thankfull heart,
Dian💓




Thursday, February 22, 2018

Worry Not, Soul!

February 22, 2018 4 Comments

This was us at Bungsu's babtism and Paul insisted on wearing the new helmet during Sunday Mass. He "ruined" our first family photo but now it is one of our funny memories and this photo is definitely all family members' favorite.

Remember when you’re still kids? What did scare you the most? What was your deepest fear?

Well, mine was sleeping alone.
I remembered sleeping together with my mom, dad and my four little brothers in one bed every night. Some kids slept parallelly with my parents, others would be sleeping above their heads and others below their feet. Any sparse area would be filled with mom and dad as the center. 

When I was 4, our bodies grew bigger and the bed didn’t fit us anymore. So, my dad placed another bed in the bedroom, for me and one of my brothers. They arranged those beds lengthwise, so we could sleep head to head with my parents. Every night, they put the two of us in the bed and at midnight, my brother would move back to my parents bed and left me alone. I could’t sleep afterwards, the only thing that would put me back to sleep was my dad’s outstretched hand from their bed, holding my hand all night long.

While I was in elementary and middle school, my biggest anxiety was merely undone homeworks and pop quizzes. 

Growing up as a teenage, I was active and involved in many school activities but deep inside, I was the shy girl who never felt good enough about herself. I didn’t fit in any group therefore I would be the one standing alone at the edge of the field after a traditional dance rehearsal, or I would diffuse in the crowd with no one to talk to. I always felt so much behind the conversation. Perhaps, I was the nerdy girl among the social butterflies. 

The anxiety of being in the crowd grew deeper when I was in college. I didn’t know how to start a conversation and keep it up without a boring silence. Attending community made me tired instantly and being alone recharged me. I enjoyed the company of closed friends but not for a long time. 

As I grow older, I realized that all these years, I only worried about the present. I only worried about what made me comfortable and what not. I never thought of the past and the future.
I should become more certain and braver by now, as I age, but in fact, many more things thrill me. A pitch dark room scares me no more, I have no more homeworks and exams that will keep me up till dawn yet I have trouble sleeping and hesitation to decide.

I never know that the past can be so scary, let alone the future. Failures haunt me and everytime I try to start anew, the thought will play in my head on and on like a broken cassette. But if I don’t move on, if don’t push myself, if don’t challenge myself, what will I be?

I know what I want in life, it’s just that I’m too scared to fail again, till one day I picked this random book from a book shelf in Gramedia, 99 Wisdom by Gobin Vashdev. I fell in love with the way he elaborates his thought about life into encouraging words. And the one that I hold on to these days is


I think, I’ve been trying to carry too much baggage and it’s about time I will stumble upon it. So, I need to let go and travel light. 
I need to do what I need to do without too much worrying about the outcome, stop trying to control everything, anticipate every options and surrender the rest to Divine Intervention.

Luke 12:27-29
27 “Consider how the wild flowers grow. They do not labor or spin. Yet I tell you, not even Solomon in all his splendor was dressed like one of these. 28 If that is how God clothes the grass of the field, which is here today, and tomorrow is thrown into the fire, how much more will he clothe you—you of little faith! 29 And do not set your heart on what you will eat or drink; do not worry about it.
All these years, I have everything laid down in front of me just at the right time, never too early, never too late. The life I have now is nothing like what I had imagined when I was a kid. People from my childhood look at me with an awe for what I am right now. Life has treated me well so far. 

So, why worry so much, girl? 
Now, chin up and embrace the future! 👊💢




Ps: 99 Wisdom is the second book of Gobind Vashdev that I read. My first one was Happiness Inside and to be honest, I like the first one better than the second one. In my opinion, Gobind can tell the stories more lavishly in Happiness Inside while in 99 Wisdom, he is limited to elaborate the idea into shorter stories since he has to load 99 chapters into one book.  But either way, I love them both and I've been keeping these books at the edge of my bed along with my bible.

Tuesday, October 17, 2017

Outbond KPPN Gunungsitoli feat. Komunitas Tapak Kaki

October 17, 2017 1 Comments
Dalam rangka melaksanakan acara tahunan kantor yaitu Corner Day 2017, kantorku memutuskan untuk ngadain acara outbond yang agak beda dari biasanya. Kalo biasanya kami outbond-nya ke pantai trus nge-games seadanya pake properti ala-ala yang disiapin sendiri, kali ini kami bekerja sama dengan fasilitator pecinta alam di Gunungsitoli yaitu Komunitas Tapak Kaki. 

Sewaktu tau kalo outbond kali ini bakalan difasilitasi oleh pihak ketiga, kita mikirnya tuh kegiatannya bakalan yayaya-yeyeye doang, sampai akhirnya kita harus ngelakuin hal-hal yang cukup memacu adrenalin dan menguras tenaga. Dengan beranggotakan 15 orang pegawai dan dipandu oleh 6 orang fasilitator, kegiatan ini berhasil bikin kami melakukan sesuatu yang tidak akan kami lakukan kalo tidak “terpaksa” :P
Berikut sedikit bocoran dari keseruan kami Sabtu kemarin:
Lokasi
Outbond ini berlokasi di Pantai Hoya, Gunungsitoli tapi seluruh kegiatannya dilaksanakan di taman yang dikelilingi hutan dan sungai kecil. Lokasi outbond ini sepertinya ga saklek disini aja deh, namanya juga yang ngadain kelompok pecinta alam, tempatnya pasti bisa dimana aja asalkan itu dekat dengan alam. Aku pribadi excited banget begitu sampai ke lokasi outbond dan liat set-up nya, langsung ketauan kalo kegiatannya bakalan seru banget.


Waktu
Kegiatan kami dibagi dalam 2 sesi yaitu games ringan untuk menguji kekompakan dan daya nalar dari pukul 10.00 WIB-12.0 WIB kemudian outbond dari pukul 14.00 WIB-17.00 WIB.

Games and Outbond
Berhubung aku ga tau sama sekali nama-nama games dan outbond-nya, aku kasi foto-fotonya aja yaaa...


Fasilitas
Seluruh properti dan venue disediakan oleh Komunitas Tapak Kaki sebagai fasilitator kami. Kami hanya menyiapkan hadiah bagi tim juara saja karena memang dari awal kami ingin konsep pertandingan antar tim. Dan yang lebih asiknya lagi, kami dikasiin satu album berisi foto-foto kegiatan kami Sabtu kemarin plus seluruh softcopy-nya. Yey...

Btw, berhubung ini adalah bagian dari kegiatan Corner Day, maka kami juga punya agenda untuk berfoto sekantor dengan berbagai atribut kantor yang dikreasikan sendiri. Tema photo session kali ini adalah rustic, walaupun pada eksekusinya malah jadi kayak prewed haha... Nah, salah satu fasilitatornya, Bang Krisman Harefa, voluntarily mau menjadi photographer kami juga looohh..padahal sebenarnya kami sudah bawa kamera sendiri dari kantor. Tapi berhubung  hasil jepretannya jaaaauuuuhhhh lebih bagus, maka jadilah kami minta difotoin sama abangnya aja.


Final Thought
Selama nge-games dan outbond, beberapa diantara kami cukup enjoy dan beberapa merasa sedikit kesulitan, namun para fasilitator bener-bener bisa mengarahkan dan membuat kami termotivasi untuk melawan ketakutan diri sendiri dan akhirnya menyelesaikan seluruh tantangan. Sepulangnya dari outbond ini, ada perasaan puas dan pikiran, “wah, aku bisa juga ya ternyata” dan menurutku pribadi, inti dari kegiatan outbond kemarin adalah itu, bahwa semua orang mampu melakukan hal-hal di luar batas kemampuannya asalkan ada kemauan dan semangat. Kita tidak pernah tau sejauh mana kemampuan kita hingga kita berhasil menantang dan menaklukkan diri sendiri.

Sepengetahuanku pribadi, kegiatan outbond seperti yang dibawakan oleh Komunitas Tapak Kaki ini masih tergolong baru di Pulau Nias namun komunitas ini mampu memfasilitasi kegiatan kami dengan sangat profesional dan menyesuaikan dengan kebutuhan kantor kami. Seluruh fasilitatornya ramah, baik dan lucu sehingga walaupun capek dan kotor-kotoran, kita tetap bisa bersenang-senang dan ketawa-ketiwi. Pokoknya cocok banget buat diajak kerjasama untuk kegiatan outbond kantor, perusahaan ataupun kelompok.

Oh iya, mereka juga banyak eksplor alam, tempat-tempat eksotis dan tersembunyi di sekitaran Pulau Nias loohhh...jadi kalo temen-temen penasaran dengan komunitas ini, kepoin aja instagram dan channel youtube mereka yang bernama Nias Tapak Kaki Community.

Last but not least, trimakasih buat smua abang-abang dari Komunitas Tapak Kaki. Sukses terus dan semoga semakin jauh menapakkan kakinya hingga ke seluruh pelosok Pulau Nias.

Yaahowu.

Tuesday, September 13, 2016

M.A.T.I

September 13, 2016 0 Comments
Banyak kejadian belakangan ini yang membuatku terus berpikir tentang hidup dan mati, berapa lama seseorang diberi free-access atas dunia dan kehidupan, apa yang dialami seseorang ketika sekarat dan apa yang dirasakan oleh keluarga dan orang-orang terdekat ketika menyadari bahwa hanya waktu yang tau kapan seseorang yang mereka cintai itu akan pergi meninggalkan mereka.

Selama sebulan lebih ber-“mukim” di rumah sakit, merawat dan menunggui adikku Bungsu dalam 2 kali operasi terakhir, seminggu menginap di lantai lorong ICU yang dingin dan basah, aku diberi kesempatan untuk merasakan, mengalami dan melihat sendiri betapa hidup ini bukanlah milik kita seutuhnya. Perasaan hati diaduk-aduk tak menentu, setiap perkembangan adikku dan pasien-pasien di sekitar memberi sensasi roller-coaster yang sungguh melelahkan. 

Setiap waktu bagaikan tawar menawar dengan Tuhan agar tidak mengambil orang yang kusayangi sekarang. Jangan sekarang. Jangan besok. Jangan dalam waktu dekat. Untuk pertama kalinya aku merasakan paksaan untuk merelakan segalanya untuk orang lain selain diriku. Oh, begini ternyata rasanya jadi orang tua. Bersiap melakukan apapun ASAL jangan ambil milikku. Yap...menawar dan bertaruh. Entah dengan siapa. Dengan nasibkah?  Dengan Tuhan-kah? Aku tak tau. Aku bahkan tidak tau apakah kita bisa tawar-menawar dengan Tuhan, setauku manusia hanya bisa memohon dan meminta dari Sang Empunya kehidupan.

Bungsu dirawat di ruang ICU selama 1 minggu dan tak terhitung berapa banyak doa yang telah aku dan keluargaku panjatkan di sisi ranjang yang dikelilingi berbagai alat-alat penunjang hidup itu. Aku berani bertaruh bahwa lebih banyak doa yang terucap di ruangan kecil yang terus berdenyut oleh elektrokardiogram (EKG) yang masing-masingnya memiliki bunyi dan nada yang berbeda itu dibanding di rumah ibadah manapun. Entah sudah berapa pasien yang keluar dari ruangan dingin tersebut dengan badan dingin, kaku , tak bernyawa dan berapa orang yang telah “naik kelas” ke ruang perawatan biasa. Yang kutau, selama di sana tak kurang dari 10 orang telah dipanggil ke sisi Bapa dan 4 di antaranya pergi pada hari yang sama. 

Aku tak tau apakah harus bersyukur atau menyesali “privilege” yang kudapatkan dengan melihat langsung drama yang terjadi ketika seluruh keluarga berkumpul mengelilingi seorang pasien yang sedang meregang nyawa dan akhirnya menyerah atas ketidakberdayaannya atas hidupnya sendiri dan akhirnya dinyatakan meninggal. Pemandangan memilukan itu tidak hanya membuat para keluarga menangis dan meraung-meraung karena tak rela melepas orang yang mereka cintai, tapi juga membuat kami para keluarga lain menitikkan air mata sekaligus ketakutan. Akankah kami merasakan hal yang sama setelah ini? Pasien di ranjang mana selanjutnya yang akan di "panggil"? 

Pernah suatu kali aku melihat detik-detik ketika seorang ibu muda berusia 32 tahun berjuang antara hidup dan mati. Dia masuk ke ruang ICU pada malam sebelumnya dalam keadaan koma karena tekanan darah tinggi. Karena ruang ICU tidak dapat dimasuki keluarga di luar jam besuk, mereka semalaman menungguinya di lorong luar ICU, tak terkecuali suami dan anak semata wayangnya yang masih balita. 
Mereka menunggu tapi ajal tidak. 

Sekitar pukul 20.00 WIB ketika sedang jam besuk dan keluarganya berkumpul di sekeliling ranjang, mereka menyaksikan bagaimana perawat berjuang memberi oksigen dan berbagai alat bantu lainnya ketika keadaannya sekarat. Suaminya meraung-raung sambil memeluk tubuhnya yang kaku, ibunya menangis memanggil nama anaknya dan terus menyebut nama Tuhan, para keluarga mengeluh dan mengaduh atas ketakutan mereka ditinggalkan oleh saudari mereka terkasih. Sampai akhirnya garis-garis lengkung pada EKG berubah menjadi lurus dan bunyinya pun menjadi datar, semua serentak menangis dan berteriak, “He So’aya,hakhosi todo ndra’aga, boi halo, So’aya. Fangawuli”. Kasihanilah kami Tuhan, jangan ambil. Kembalikan dia. Sungguh ketika alat yang diciptakan manusia itu menyatakan bahwa jantung si ibu muda tersebut  telah berhenti berdetak, mereka masih terus bermohon agar Tuhan mau mengembalikan si ibu muda tersebut kepada mereka. 
Menawar takdir. 

Tak lama kemudian seorang dokter jaga datang, melakukan hal-hal yang aku tak tau apa itu dan kemudian memberi isyarat kepada para perawat.  Seperti mengerti bahasa isyarat, para perawat pun mulai melepas semua selang dan alat-alat yang menempel di tubuh ibu muda tersebut dalam diam.  Tak peduli seberapa kerasnya keluarga memohon agar alat tersebut tetap terpasang, kalau-kalau si ibu tersebut akan bangun lagi. 

Seketika itu juga aku seperti bisa merasakan pilu yang dirasakan oleh suami dan keluarga si ibu tersebut. Terlebih lagi melihat anak balitanya yang kebingungan melihat ibunya hanya tidur sementara semua orang di sekitarnya menangis meraung-raung.Entah kenapa berbagai macam kemungkinan berkelebat di benakku mengingat anak malang tersebut.

Aku berdiri  menghalangi pandangan Bungsu agar dia tak bisa melihat kejadian tersebut. Aku tidak ingin dia merasa takut atau sedikitpun berpikir bahwa nasibnya akan sama dengan si ibu muda. 

Aku ngeri dengan betapa tak berdayanya manusia atas hidupnya sendiri. Bahkan untuk mengklaim tubuh sendiri pun kita tidak mampu. Aku tersadar akan kefanaan dunia dan hidup. Betapa kita begitu terhanyut dengan ide memiliki dan dimiliki. Kelak semua akan kita tinggalkan ketika kita MATI. Kita akan pergi tanpa membawa apapun dan yang tersisa hanyalah duka bagi orang-orang yang merasa memiliki.



Monday, July 11, 2016

One Fine Day with Family at Hiliamaeta, Teluk Dalam

July 11, 2016 0 Comments

As I have mentioned in my previous post, it’s been 10 months since I moved back to Nias Island and not even once I spent time together with my big family till the last Eid holiday. Not so often we got the whole week away from work and rush so I decided to enjoy my HOLIday and made the best of it.
This time, I didn’t hang out with friends , it’s totally family time and we decided to pulang kampung to Teluk Dalam, my mom’s birth place, where all my big family live. The reason why we opted for Teluk Dalam instead of Mandrehe (my daddy’s birth place) was not completely for holiday alone, it was because my cousin’s wedding as well. But I’m gonna go into the details of the wedding anyway since I didn’t really understand nor enjoy the event (?). All I knew about it was that the room was full of people and they spoke really (like reaaaaalllly) loud. Yaaa..that’s just the way we, from the south, do the talking. So just bear with it (no, I couldn’t) LOL.

So, let’s just jump into the fun part anyway.

Our idea of spending family time together is not going to some fancy restaurants nor going to the mall (cause we don’t have one in here) nor watching movie nor have karaoke at home. Family time means we’re going outdoor and have picnic together. This time, we decided to go to Nanio Beach, it’s a deserted beach not far from my uncle’s house. 

Everybody knows Lagundri or Sorake Beach but Nanio?

We prepped some fishes, seasoning and everything needed for the barbeque at the beach. We also bought some snacks and cakes for the kids since kids would always go for some dessert instead of the main course. Don’t they? 

To reach the beach area, we needed to walk along a narrow shruby pedestrian trek for about 20 minutes. Like I said before, it was a hidden beach away from the street, located behind the wood and coconut plantation. The walk was a bit tiring since it was a sizzling noon and we had kids and so many things to bring for the picnic. But we really enjoyed the view we found along the way. There was a wooden bridge, mangrove plantation and a river. 




As we reached the beach, we found some ruins of houses or quay or bulding, I wasn’t so sure what It was. But I thought the ruins, sunset and beautiful beach would make good pre wedding photos :P


We started our picnic by looking for some branches and coconut fiber, set the fire and let the men did the roasting while the women and kids prepared the dish (and took selfies :P) 



I myself watched over my cousins and then went explore the beach with my brother, Paul, and took some photos.

My brother, Paul. He took almost every photos I posted in this post.
I ran out of idea of good photos. I decided to run on the beach and twirled as if I was dancing and VOILA...some witty poses of me!
While exploring the beach, we found some interesting spots and objects. The beach itself was not only sand and bush, but also ex mangrove plantation area and trees which made the panorama was so unique. It was like a swamp at the same time. With perfect angle, we could take some photos that mimic the horror movie background LOL.


We also found so many sea shells and some sea animals. I didn't know the names, but my brothers and I usually just name kepiting and undur-undur for every little creature we find at the beach..LOL.



FINAL THOUGHT
I really enjoyed my time with my family, they’re so lovely and funny. It’s not everyday I can feel lots of love and laughter around me. The scenery and the beach was mesmerizing  and quiet. It was like having the whole beach for ourselves. I’m looking forward to the next quality time with my loved ones :)
 
Meet the krucils. Two of my cousins, Advent and Noble. The selfie expert. Never leave your cellphone somewhere they can reach, they're gonna make your gallery overloaded by cuteness.
The squad :)

Families are like fudge - mostly sweet with  a few nuts